Rupiah Menguat Didukung Kebijakan FOMC, Yield SBN Turun
Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan penguatan pada perdagangan Jumat, ditutup di level Rp16.666 per dolar AS, naik 10 poin dari sebelumnya Rp16.676. Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menyebutkan bahwa penguatan rupiah didorong oleh keputusan Federal Open Market Committee (FOMC) yang memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 3,50–3,75 persen.
Selain itu, pengumuman The Fed untuk memulai kembali pembelian surat berharga Pemerintah AS senilai 40 miliar dolar AS dipandang pasar sebagai strategi keluar dari Quantitative Tightening (QT), sehingga mendorong pelemahan dolar AS secara luas.
Data ekonomi AS terbaru juga memperkuat tekanan terhadap dolar, di mana Initial Jobless Claims naik menjadi 236 ribu, melebihi ekspektasi pasar. Kondisi ini menandai pelemahan pasar tenaga kerja AS dan mendorong rupiah menguat.
Dengan kondisi tersebut, kurs rupiah diprediksi bergerak di kisaran Rp16.625–16.725 per dolar AS. Selain itu, penguatan rupiah turut menekan yield SBN, terutama tenor pendek, dengan yield SBN 5 tahun tercatat 5,63 persen (-3 bps).
Dikutip dari antaranews.com
