Perkuat Simfoni PPA, Menteri Soroti Tantangan Perlindungan Anak dari Kekerasan
1 min read

Perkuat Simfoni PPA, Menteri Soroti Tantangan Perlindungan Anak dari Kekerasan

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi menegaskan penguatan koordinasi antarpemangku kepentingan menjadi kunci percepatan penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Hal tersebut disampaikan di Jakarta, Selasa, 3 Februari 2026, dengan penekanan pada optimalisasi Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA).

Menurut Arifah, Simfoni PPA tidak hanya berfungsi sebagai alat pencatat data, tetapi menjadi sistem terintegrasi untuk memastikan setiap kasus ditangani secara berjenjang, tuntas, dan terkoordinasi lintas sektor. Ia menilai penguatan sistem ini penting untuk menyamakan langkah seluruh pihak dalam meningkatkan kualitas layanan perlindungan.

Menteri PPPA juga menyoroti masih adanya anak-anak yang harus tinggal di sentra perlindungan akibat proses penanganan kasus yang belum selesai, serta tingginya kekerasan seksual yang dilakukan oleh orang terdekat korban. Ia menekankan peran keluarga sebagai garda terdepan perlindungan anak melalui komunikasi terbuka, edukasi sejak dini, dan kepekaan terhadap perubahan perilaku anak.

Sementara itu, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Wihaji mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai praktik child grooming, yakni manipulasi psikologis orang dewasa terhadap anak yang dapat berujung pada kekerasan seksual. Pemerintah mengajak seluruh elemen masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan peran aktif dalam melindungi perempuan dan anak.

Dikutip dari RRI.co.id