Bapanas Pastikan Stabilisasi Harga dan Ketersediaan Beras Hingga Akhir Tahun 2026
Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan distribusi beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) 2026 dimulai Maret hingga akhir tahun guna menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan nasional. Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyampaikan program SPHP beras tahun ini menargetkan distribusi 828 ribu ton, didukung anggaran subsidi harga sebesar Rp4,97 triliun.
Bapanas meminta Perum Bulog fokus menyalurkan beras ke daerah yang bukan sentra produksi padi dan tidak sedang panen raya, sementara distribusi di daerah panen tetap dilakukan secara terbatas agar harga gabah petani tetap di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Saat ini, stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) mencapai 3,7 juta ton dan diperkirakan menembus 5 juta ton pada akhir Maret.
Tahun ini, SPHP beras dapat disalurkan dalam kemasan 5 kg dan 2 kg untuk konsumen, sementara kemasan 50 kg dialokasikan untuk daerah tertentu seperti Maluku, Papua, dan 3TP (tertinggal, terdepan, terluar, perbatasan). Konsumen dibatasi membeli maksimal 5 kemasan 5 kg atau 2 kemasan 2 kg, dan beras SPHP tidak boleh dijual kembali karena mengandung subsidi negara.
Harga beras SPHP juga diatur hingga tiga lini rantai pasok. Contohnya, di wilayah Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Bali, NTB, dan Sulawesi, harga di gudang Bulog Rp11.000/kg, distributor Rp11.700/kg, dan konsumen Rp12.500/kg. Di Maluku dan Papua, harga maksimal di konsumen Rp13.500/kg.
Program SPHP beras 2025 yang diperpanjang hingga Februari 2026 telah menyalurkan 1,025 juta ton, turut menjaga inflasi beras nasional. Inflasi beras pada Januari dan Februari 2026 tercatat stabil di 0,16 persen dan 0,43 persen, lebih rendah dibanding dua tahun sebelumnya.
Dikutip dari antaranews.com
