Ketegangan Keraton Surakarta Memanas Menyambut Pelantikan Raja Baru
2 mins read

Ketegangan Keraton Surakarta Memanas Menyambut Pelantikan Raja Baru

Konflik perebutan takhta kembali memanas di Keraton Surakarta Hadiningrat setelah dua anak SISKS Pakubuwono XIII terlibat perselisihan mengenai penetapan calon raja penerus. Putra sulung Pakubuwono XIII, KGPH Hangabehi atau Gusti Mangkubumi, resmi dinobatkan sebagai Pangeran Pati—tahap awal menuju takhta raja—pada Kamis (13/11).

Penetapan ini dilakukan melalui rapat keluarga besar Keraton Surakarta yang digelar di Sasana Handrawina, dihadiri perwakilan trah raja-raja, Sentana Dalem, serta sejumlah paguyuban binaan Keraton. Hadir pula beberapa adik Pakubuwono XIII, termasuk Kanjeng Gusti Panembahan Agung Tedjowulan, GRAy Koes Moertiyah (Gusti Moeng), dan GPH Suryo Wicaksono (Gusti Nenok).

Menurut Nenok, penobatan Mangkubumi sebagai Pangeran Pati dilakukan dalam forum tersebut. Namun situasi sempat memanas ketika kakak Mangkubumi, GKR Timoer Rumbay, datang dan memprotes jalannya acara. “Mereka mengatakan bahwa acara ini bertentangan dengan komunikasi internal,” ujar Nenok.

GKR Timoer Tolak Penobatan Adiknya, Tuduh Ada Pengkhianatan Kesepakatan

GKR Timoer Rumbay, anak tertua Pakubuwono XIII, secara tegas menolak penobatan adiknya sebagai calon raja.
Ia menuding Hangabehi telah mengkhianati kesepakatan keluarga terkait penetapan penerus takhta.

“Saya sedih, Gusti Mangkubumi bisa berkhianat kepada kami putra-putri dan saudara-saudaranya,” kata Timoer.

Ia mengungkapkan bahwa keluarga inti sebelumnya telah menyepakati bahwa calon penerus takhta adalah Pangeran Adipati Anom Hamangkunagoro. Kesepakatan itu, menurut Timoer, disampaikan dalam pertemuan yang turut disaksikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Wali Kota Solo Respati Ardi, dan mantan Wali Kota Solo Teguh Prakosa.

Timoer menyebut rapat penetapan Mangkubumi tidak sah karena tidak dihadiri keluarga inti dan sebagian besar adik-adik Pakubuwono XIII. “Dari pihak Pakubuwono XII yang hadir hanya enam, dua walk out dari 23 undangan. Silakan nilai sendiri apakah ini benar dari segi hukum dan adat,” ujarnya.

Tedjowulan: Saya Dijebak untuk Merestui Penobatan

Di sisi lain, KGPAA Tedjowulan mengaku merasa dijebak dalam rapat tersebut. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak mengetahui bahwa penobatan Mangkubumi akan dilakukan dalam forum itu.

“Saya mboten nate diajak rembukan pengukuhan,” kata Tedjowulan.

Ia menjelaskan bahwa tujuan awal rapat adalah untuk mengajak semua pihak menahan diri selama masa berkabung wafatnya Pakubuwono XIII—bukan untuk menetapkan calon penerus.

Tedjowulan juga memastikan bahwa Jumenengan Dalem Binayangkare Pakubuwana XIV akan tetap digelar pada Sabtu (15/11), di mana anak bungsu Pakubuwono XIII dijadwalkan dinobatkan sebagai Raja Keraton Surakarta.

Dikutip dari cnnindonesia.com