Mengapa Tidur Delapan Jam Tak Selalu Efektif? Ini Penjelasan Para Ahli
1 min read

Mengapa Tidur Delapan Jam Tak Selalu Efektif? Ini Penjelasan Para Ahli

Tidur selama delapan jam kerap dianggap cukup untuk memulihkan tubuh. Namun, banyak orang justru tetap merasa lelah saat bangun tidur. Kondisi ini menunjukkan bahwa durasi tidur saja tidak cukup, melainkan kualitas tidur yang menjadi faktor utama.

Penelitian menunjukkan bahwa tidur gelombang lambat, yang berperan penting dalam pemulihan sel tubuh, kini semakin menurun akibat gaya hidup modern. Paparan gadget dan stimulasi digital yang berlebihan membuat otak sulit benar-benar beristirahat.

Akademisi dari Pennsylvania State University, Orfeu Buxton, menjelaskan bahwa otak sering kali tidak menerima sinyal yang cukup untuk merasa aman dan melepaskan kewaspadaan di malam hari. Hal ini diperparah oleh kebiasaan menggunakan ponsel sebelum tidur yang dapat mengganggu ritme alami tubuh.

Studi terbaru juga mengaitkan penggunaan smartphone dengan buruknya pemulihan psikologis. Sistem stres dalam tubuh tetap aktif, ditandai dengan lambatnya penurunan hormon kortisol serta terganggunya variabilitas detak jantung.

Selain itu, cahaya buatan dari layar gadget dapat mengacaukan ritme sirkadian, sehingga waktu tidur menjadi tidak selaras dengan jam biologis tubuh. Para ahli menegaskan bahwa waktu tidur sama pentingnya dengan durasinya.

Gangguan ini juga berdampak pada sistem pembersihan alami otak (glimfatik), yang berfungsi membuang limbah metabolik saat tidur. Jika terganggu, tubuh tidak mendapatkan pemulihan optimal meskipun sudah beristirahat lama.

Untuk meningkatkan kualitas tidur, para ahli menyarankan membangun rutinitas malam yang konsisten, seperti mengurangi penggunaan gadget, meredupkan lampu, dan menciptakan “sinyal akhir hari” agar tubuh lebih siap beristirahat.